Suatu pagi, Noning kakak perempuanku mengeluh soal tunangannya. Farga. Seolah rencana yang mereka rancang sendiri terasa melumpuh. Noning sedih. Noning putus asa. Entah apa yang terjadi pada mereka kala bersama dulu dan kenapa sekarang malah terbalik..? Noning tak kuasa menahan dukacitanya itu. Dengan nada samar terdengar, ia ingin memutuskan jalinan kasihnya dengan Farga. Apa sebabnya? tanyaku yang penuh heran dan tidak percaya dengan semua pernyataannya itu. Sejenak ku ingat sosok Farga, pengawas toko waralaba sekaligus pengelola perpustakaan keliling adalah seorang yang pemalu tetapi pintar karena kegemarannya membaca. Badan yang tak banyak mengundang kaum hawa meliriknya tapi Noning menerima. Tulus. Perkenalan mereka berawal dari buku. Farga lelaki yang santun dan sederhana, sedang Noning wanita yang sangat royal dan ambisius. Tetapi, sentuhan kasih Farga mampu merubahnya menjadi lebih apa adanya. Sosok lelaki yang jauh dari impian Noning itu mampu membuat Noning luluh.
Tak lama Noning menangisi pernyataan sepihaknya itu, suara klakson mobil Bapak seolah tak memberi kesempatan kepadanya untuk memberi jawaban padaku. Pergilah ia untuk menjalankan tugasnya sebagai teller di sebuah bank. Akupun meneruskan sarapan yang sempat membuatku tak berselera karena Noning.
Lagu “orkes sakit hati” punya slank yang menimbulkan vibrasi membuat ponselku bergerak hampir jatuh dari meja makan, menyudahi sarapanku. Farga. Lelaki yang hendak menikahi Noning mengajakku bertemu. Kupastikan ia ingin membicarakan hubungannya dengan Noning.
Sesampaiku di tempat yang dijanjikan, kulihat Farga tak sendirian menungguku. Ada seorang gadis muda disamping bangkunya. Pikiran buruk spontan mempengaruhiku menyaksikan mereka yang tampak mengharapkan sesuatu dariku.
Farga perkenalkan gadis itu padaku. Reisha.
“jangan berpikir buruk tentangku, Nez”. Seolah Farga mampu mendengar suara batinku. Tapi aku diam saja, menunggu apa yang hendak dikatakannya selanjutnya.
“aku yakin Noning sudah bercerita denganmu tentang keputusan kami ini”. Apa? ’keputusan kami’ ? mungkinkah Noning dan Farga telah sepakat dengan perpisahaan ini dan bukan pernyataan sepihak Noning sendiri? Apa hubungannya dengan gadis muda yang dia kenalkan padaku? Siapa dia? Diakah yang sering disebut “pihak ketiga”? Batinku terus menanyai masalah ini.
“aku bingung mengatakan ini padamu Nez. Noning tak ingin mendengar alasan dibalik keputusan ini, aku pikir kau mau mendengarkan ku dan menyampaikannya pada kakakmu Noning”. Farga diam sejenak. Mungkin sedang merancang kalimat yang tepat untuk diberikan kepadaku. Tapi kulihat gadis itu tampak murung dan sedih. Matanya sembab seperti kelelahan menangis. Siapa yang melakukan ini padanya? Farga kah? Ada apa ini?
“Reisha ini adalah putriku”. Kata farga singkat.
Aku diam. Teringatku pada Noning yang untuk kesekian kalinya dikhianati lelaki karena wanita lain. Untuk kesekian kalinya Noning sakit hati dan aku mengerti mengapa ia tak bersedia mendengar alasan lelaki yang bernama Farga ini. Begitu sering hubungan cintanya putus dengan alasan yang sama. Orang ketiga. Tapi entahlah apa yang terjadi padaku saat itu, seolah tak ingin lekas pergi justru menunggu apa yang hendak Farga jelaskan berikutnya. Hanya Fargalah pacar Noning yang bisa berteman denganku. Lainnya hanya lelaki tampan, berduit dan manja karena selalu hidup enak dari orangtuanya yang penuh kuasa. Aku benci dengan kemunafikan. Itu pendapatku. Lelaki seperti itulah impian Noning. Dulu.
Tapi Farga lain. Pembawaannya yang sederhana, apa adanya dan supel tampak tak biasa dari pacar-pacar Noning sebelumnya. Aku pun senang setiap kali berbincang dengannya. Pengetahuannya sangat luas dan tidak mudah marah kala Bapak dan Ibu menyinggung soal status ekonominya yang berbeda dengan Noning. Meski begitu, bapak dan ibu menyukai sifat Farga yang dewasa sehingga mampu mengimbangi sifat Noning yang susah diatur dan ingin menang sendiri. Tapi sudahlah, berangan mempunyai kakak ipar seperti Farga mungkin tak akan pernah terwujud. Itu anggapku tentang Farga.
“dulu masa mudaku kelam, Nez. Aku salah pergaulan. Lingkungan mendukungku bertingkah tercela sampai adanya Reisha sekarang ini. ” ungkap Farga terus terang. nampak Reisha menyimak betul apa yang dikatakan Farga tanpa tau apa yang ada dalam benaknya.
"aku mencintai kakakmu, Nez. sungguh. aku telah banyak berubah setelah kejadian itu. tapi masa lalu itu ingin aku perbaiki dihidupku yang sekarang dengan mengasuh Reisha. aku merasa bertanggungjawab pada anak ini". nada bicara farga melemah seolah tak percaya bahwa masa mudanya sangat hitam. menurutnya.
"kau tak tau kalau kau mempunyai anak yang sudah sebesar ini? kemana saja kamu selama ini? dan bagaimana hubunganmu dengan ibunya?". tanyaku sedikit menghakimi.
"aku dan ibunya sepakat berpisah setelah kejadian buruk itu. Ia menolak tanggung jawab yang hendak kuberikan padanya. dia tak ingin melihatku lagi dan berharap untuk melupakan semua yang terjadi. aku sudah berusaha membujuknya tetapi dia menghilang entah kemana. hingga aku putuskan untuk menutup buku tentangnya". jelas Farga lebih serius.
"lantas, bagaimana pertemuanmu dengan Reisha ini?". tanyaku.
"tiga bulan yang lalu, aku bertemu bibinya di toko tempatku kerja. kakak ibunya Reisha. kau tau apa yang bibinya katakan padaku? ". tanya farga seolah ingin aku menebaknya. dan akupun hanya menggeleng dengan penuh penasaran.
"ibunya meninggal ketika melahirkan Reisha. selama 14 tahun ia dan suaminya membesarkan anak ini. dan sekarang, sebagai menebusan dosa, akulah yang akan merawat Reisha. aku bertanggungjawab atas hidup Reisha selanjutnya." kata farga yang sepertinya sudah menuntaskan ceritanya.
"apa yang ingin kau katakan padaku dari ceritamu ini, Far?". tanyaku.
"aku hanya ingin Noning tau, bahwa aku tidak berniat membuatnya kecewa seperti sekarang. aku sangat mencintainya tapi aku tak akan memaksanya untuk bersamaku setelah masalah ini terungkap. sampaikan padanya apa yang telah kuceritakan tadi. meski mungkin, dia tak ingin mengingatku lagi. tapi aku akan tetap mencintainya."
--------------------------------


Tidak ada komentar:
Posting Komentar