Powered By Blogger

Mengenai Saya

Foto saya
Semarang, Jawa Tengah, Indonesia
seseorang yang mempunyai impian "menghadapi dan menjalani setiap pemberianNYA dengan penuh nikmat" sehingga akan terus bersyukur.

Senin, 18 Februari 2008

cerpen amatir bagian 2 (selesai)

Sepanjang jalan, coba kupikirkan ulang pembicaraanku dengan Farga, tapi tak mudah mendapatkan cara terbaik untuk menyampaikannya kepada Noning. Aku tak ingin melukainya. Aku harus menjaga perasaannya.
Berhari hari sudah kulalui tanpa kemunculan ide yang berarti. Memikirkannya membuatku lupa semua. Tidak berlebihan bila aku ingin kakakku bahagia dengan lelaki pilihannya tanpa membawa kekecewaan, dan tidak berlebihan juga bila aku mendukung keputusan Farga yang ingin membahagiakan putrinya.
Tapi kuputuskan juga akhirnya untuk mengatakan pada kakakku itu. kalimat demi kalimat coba kususun rapi tanpa menyudutkan Farga. Aku tak berharap hubungan mereka akan lebih baik tapi yang kutahu, noning harus mengerti posisi tunangannya saat itu.
Noning mulai menangis. Noning sedih. Mungkin juga semakin kecewa dengan penjelasanku. Tak ada kata atau komentar dibalik ceritaku itu. hanya diam dan berlalu. Entah apa yang dikatakan oleh batinnya yang pilu.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Rumah terasa seperti kuburan setelah seisi rumah mengetahui keadaan hubungan mereka. Bapak, ibu hanya pasrah dan menyerahkan sepenuhnya pada Noning. Bagi mereka, hidup adalah pilihan dan setiap pilihan adalah tanggung jawab. Kulihat Noning selalu murung. Penuh dengan keputus asaan. Dalam kesedihaannya itu kuberanikan diri mengajaknya pergi ke pameran buku.
Stan demi stan kami lalui sembari sesekali mengambil buku untuk sekedar membaca intisarinya. Sebuah buku menghanyutkanku untuk terus ingin ku buka lembar demi lembar tanpa mneghiraukan keberadaan Noning. Tiba-tiba..
“Sedang baca buku apa?”. Noning mengejutkanku seketika.
“kisah-kisah anak jenius. Menarik ya?”. Jawabku tanpa pikir panjang bahwa Noning sedang bermasalah dengan keberadaan seorang anak. Dan ia hanya diam. Tak lama kemudian seorang gadis muda menghampiri Noning. Dan aku merasa mengenalnya.
“ternyata kakak disini? Aku mencarimu untuk mengembalikan ponsel ini yang kupinjam tadi. Terimakasih ya kak..?”. ucap gadis muda belasan tahun itu ramah. Manis sekali.
“iya. Sama-sama dik. Sudah telponnya? Kenapa kamu sendirian?”. Tanya Noning ramah pula.
“sudah. Aku baru di kota ini, belum punya teman. Ayah sebentar lagi akan menjemputku.” Jawab gadis itu.
Aku terus mengingat-ingat gadis muda itu yang sepertinya kami pernah bertemu lama. Reisha.
Yah, gadis muda itu Reisha. Aku hampir memberitahu Noning kalau gadis itulah adalah anak Farga. Aku memang sengaja tidak mengatakan siapa nama anak itu ketika kuceritakan masalah itu kepadanya. Dari kejauhan kupandangi mereka tenggelam dalam obrolan yang seru. Tampak diraut muka Noning memberi sinyal ketenangan yang terkemas dalam senyum lebarnya setiap menatap Reisha. Dan yang mengejutkan lagi, Reisha pun tak sungkan meraih tangan Noning dengan penuh keceriaan. Sungguh pemandangan yang melegakan hatiku karena Noning kembali tersenyum. tapi di sisi lain aku khawatir dengan kenyataan yang akan Noning ketahui sebentar lagi.
Dan, ternyata benar apa yang menjadi kekhawatiranku. Farga datang. Tanpa sempat melihatku, farga menghampiri mereka. Noning terkejut.
Kusaksikan mereka terlibat suatu pembicaraan yang serius tapi tanpa amarah. Sengaja ku jauhi mereka karena cara seperti inilah yang harus mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah. Akupun pulang tanpa Noning. Kubiarkan mereka bersama.
Langit siang berganti malam, tapi Noning belum kembali. Entah apa yang terjadi dengan mereka. Tak lama, terdengar suara pintu terbuka dan Noning beranjak masuk ke dalam. Tidak sendiri. Melainkan bertiga. Noning, Farga dan si cantik Reisha. Aku, bapak dan ibu menyambutnya penuh tanya tapi hanya diam. Mengharap mereka mengatakan sesuatu.
“kak Nezel kenapa belum dandan? Sebentar lagi ijab kabulnya dimulai kan?”. Suara Reisha memecah lamunan panjangku yang berharap aku segera mempersiapkan diri mendampingi Noning menghadap penghulu.
Dalam alunan ayat-ayat suci Al quran, kudapatkan satu pelajaran berharga. Ketulusan hati untuk selalu memperbaiki diri tak ada yang tak mungkin kalau cinta akan membalasnya dengan indah.
Entah apa yang terjadi saat di pameran itu. tapi bagiku, keajaiban Tuhan berkata demikian akhirnya.
SELESAI.

Tidak ada komentar:

SeLaMaT DaTaNG...

Meski waktu terus mengejar usia, akan terasa bermakna ketika kita tak patah hasrat untuk belajar.
Meski kejenuhan tak jarang berkunjung dihidup kita, pastikan bahwa hal itu akan menarik kita ke dalam kenikamatan untuk dijalani.